RSS

Sifat Wudhu Rasulullah

20 Feb
Oleh Abu Asma’ Kholid bin Syamhudi Fiqih

Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad pada masa kevakuman para rasul dan pada masa perpecahan umat manusia yang tidak mengetahui sedikitpun agama Allah, bahkan hujjah mereka dalam mengambil sesembahan selain Allah adalah taklid, sebagaimana yang dikabarkan Allah dalam firman-Nya,

“Bahkan mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.'” (Az-Zukhruf, 43:22)

Dan tempat kembali mereka dalam perselisihan dan khilaf adalah berhukum dengan pendapat dan pemikiran pembesar-pembesar mereka dan hukum-hukum selain hukum Allah. Lalu Allah menunjuki mereka dengan mengutus Rasulullah untuk mengeluarkan mereka dari kesesatan dan kebutaan serta menyatukan mereka setelah berpecah belah. Maka, mereka pun kemudian hidup dalam naungan agama ini dengan kenikmatan akidah yang murni sehingga mereka tidak lagi menyembah kecuali kepada Allah, dan tidak berhukum dalam segala perkara mereka, baik dunia maupun agama, kepada seorangpun selain Allah dan Rasul-Nya.Pensyariatan dalam agama ini diturunkan melalui jalan dua wahyu, yaitu Alquran dan As-Sunnah. As-Sunnah dikatakan wahyu karena Rasulullah tidak berkata-kata kecuali dari wahyu Allah sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah :

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm, 53:3-4)

Tidaklah Allah mengambil ruh Rasulullah, melainkan setelah menyempurnakan agamanya bagi manusia, lalu pada Haji Wada’ Allah menurunkan firmannya:

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.” (Al-Maidah, 5:3)

Ayat yang mulia ini menunjukkan kesempurnaan syariat Islam dan kesempurnaan agamanya sehingga tidak membutuhkan penambahan dan pengurangan sedikitpun, dan menunjukkan bahwa Allah telah mencukupkan segala yang dibutuhkan oleh hamba-Nya dalam merealisasikan tujuan penciptaan mereka yaitu ibadah, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah :

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”(Adz-Dzariyat, 51:56)

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, “Ini merupakan nikmat yang agung yang Allah karuniakan kepada umat ini, yaitu Dia telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka sehingga mereka tidak lagi membutuhkan kepada agama yang lain dan tidak juga nabi selain Nabi mereka. Oleh karena itu, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan mengutusnya kepada manusia dan jin. Maka, tidak ada kehalalan kecuali yang dihalalkannya, dan tidak ada keharaman kecuali yang diharamkannya, serta tidak ada agama kecuali yang dibawanya.”

Dan Ibnu Abbas berkata, “(Dalam ayat ini ) Allah telah mengabari Nabi-Nya dan kaum Mukminin bahwa Dia telah menyempurnakan agama mereka sehingga tidaklah mereka membutuhkan tambahan apapun, dan telah menamatkannya sehingga tidak akan berkurang sedikitpun, serta telah meridhainya sehingga tidak akan murka kepadanya.” (Ad-Dur al-Mantsur 3/17).

Setelah kita meyakini kesempurnaan Islam, maka kita juga meyakini bahwa Rasulullah telah menjelaskan segala hal yang dapat mendekatkan diri umatnya kepada surga, dan di antaranya adalah masalah wudhu yang merupakan kunci solat. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk mengetahui hal tersebut.

Sifat Wudhu Nabi

1. Definisi Wudhu

1.1. Menurut Etimologi (Bahasa)

Kata AL WUDHU’ dengan dhammah bermakna ‘pekerjaan berwudhu’, sedang dengan fathah bermakna ‘air yang dipakai untuk berwudhu’.

1.2. Menurut Terminologi (Istilah)

Sedangkan menurut istilah, AL WUDHU’; bermakna ‘penggunaan air yang suci untuk menyiram anggota tubuh tertentu yang telah dijelaskan oleh Syariat dengan niat ibadah’.

2. Pensyariatan Wudhu

Adapun dalil pensyariatannya adalah sebagai berikut.

a. Firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan solat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (Al-Maidah, 5:6)

b. Sabda Rasulullah:

“Tidak diterima solat salah seorang dari kalian jika berhadats sampai dia berwudhu.” (Hadits riwayat al-Bukhariy dan Muslim dari hadits Abu Hurairah).

c. Sabda Rasulullah :

“Allah tidak menerima solat tanpa bersuci dan sedekah dari pencurian.” (Riwayat Muslim dari hadist Ibnu Umar).

d. Sabda Rasulullah :

“Kunci solat adalah bersuci (wudhu).” (HR Abu Daud, at-Tirmidziy, dan Ibnu Majah dari hadits Abu Said, dan disahihkan al-Albaniy dalam Shahih al-Jami (5761)).

3. Keutamaan Wudhu

Di antara bukti kesempurnaan agama Islam adalah Islam menjadikan balasan dan keutamaan bagi pelaku ibadah yang dibebankan kepadanya untuk memotivasi umatnya dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut. Demikian juga dengan berwudhu.

Di antara keutamaan wudhu yang ada dalam hadits-hadits yang sahih adalah:

a. Sabda Rasulullah :

“Inginkah kalian aku tunjukan sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?” “Mau, wahai Rasululah!”, jawab mereka. Beliau pun berkata, “Yiatu kalian menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang sulit, dan memperbanyak langkah ke masjid, serta menanti solat setelah solat, maka itulah ribath, maka itulah ribath, maka itulah ribath.” (Riwayat Muslim).

b.Sabda Rasulullah :

“Barangsiapa berwudhu lalu membaguskannya, maka keluar dosa-dosanya dari jasadnya sampai keluar dari bawah kuku-kukunya.” (Riwayat Muslim).

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan wudhu.

4. Amalan-Amalan yang Dilakukan dalam Berwudhu

4.1. Niat

Niat dalam berwudhu adalah keinginan keras untuk melakukan wudhu dalam rangka melaksanakan perintah Allah I dan Rasul-Nya.

Ibnu Taimiyah berkata, “Tempat niat itu adalah hati dan bukan lisan menurut kesepakatan ulama-ulama kaum muslimin dalam setiap ibadah, seperti thaharah, solat, zakat, puasa, haji, membebaskan budak, dan jihad, serta yang lainnya. Jika seseorang berkata berbeda dengan apa yang dia niatkan dalam hatinya, maka yang jadi patokan adalah yang ada di dalam hatinya, bukan yang dia ucapkan. Dan jika tidak terjadi niat dalam hatinya, maka tidak boleh (hal itu) menurut kesepakatan kaum muslimin karena niat itu adalah sejenis tujuan dan kehendak yang kuat (azam).”

Niat disyariatkan dalam berwudhu sebagaimana tersirat dalam sabda Rasulullah :

“Sesungguhnya amalan-amalan itu dengan niat.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

4.2. Membaca Basmalah

Disyariatkan kepada orang yang ingin berwudhu untuk membaca basmalah berdasarkan sabda Rasulullah :

“Tidak ada wudhu bagi orang yang tidak membaca nama Allah atasnya.” (Riwayat Ibnu Majah, at-Tirmidzi dan Abu Dawud, dan disahihkan oleh al Albany dalam Shahih al-Jami’ (7444)).

4.3. Mencuci Kedua Telapak Tangan

Setelah membaca basmalah, disyariatkan untuk mencuci kedua telapak tangan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Hamran, beliau berkata bahwa Utsman meminta air wudhu, lalu mencuci kedua telapak tangannya tiga kali kemudian berkata,

“Aku melihat Rasulullah berwudhu seperti wudhuku ini.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

4.4. Berkumur dan Memasukkan Air ke dalam Hidung

Setelah mencuci telapak tangan, maka berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung sebagaimana disebutkan dalam hadits Amr bin Yahya, beliau berkata,

“Lalu (Rasulullah) berkumur dan memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya dari tiga ghurof (tiga ukuran caukan telapak tangan).”

Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh Shahih Muslim, “Dalam hadits ini terdapat penunjukan yang jelas untuk mazhab (as-Sayafi’i) yang sahih dan terpilih bahwa yang disunnahkan dalam berkumur dan memasukkan air ke hidung adalah dengan tiga ghurof yang dipakai berkumur dan memasukkannya ke dalam hidung dari setiap satu darinya.”

Berkumur dan memasukkan air ke hidung dilakukan dengan satu ghurfah (satu caukan tangan) secara bersamaan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin Zaid ketika ditanya tentang wudhu Rasulullah, kemudian dia mempraktikkannya dan disampaikan bahwa dia:

“Berkumur dan memasukkan air ke hidung dari satu telapak tangan, dan mengerjakannya tiga kali.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Adapun memasukkan air ke dalam hidung dilakukan dengan tangan kanan dan dikeluarkan dengan tangan kiri, sebagaimana yang dikatakan Abdu Khair:

“Kami sedang duduk-duduk melihat Ali berwudhu. Beliau memasukkan tangannya yang kanan dan memenuhi mulutnya dengan air lalu berkumur dan memasukkan air ke dalam hidungnya, kemudian mengeluarkannya dengan tangan kirinya, dan melakukannya tiga kali, kemudian berkata, ‘Barangsiapa yang senang melihat bersucinya Rasulullah, maka inilah wudhunya.'” (Riwayat ad-Darimy dan Syaikh al-Albany menyatakan: sanadnya sahih).

Hendaknya memasukkannya dengan kuat, kecuali jika sedang berpuasa karena diperintahkan Rasulullah, beliau bersabda,

“Kuatkanlah dalam memasukkan air ke hidung, kecuali jika kamu berpuasa.” (Riwayat Abu Dawud, at-Tirmizdi, an-Nasai, dan Ibnu Majah).

4.5. Mencuci Wajah

Adapun batasan wajah yang harus dicuci adalah dari tempat tumbuh rambut kepala sampai bawah jenggot dan dagu, dan sampai pokok kedua telinga. Hal ini diwajibkan berdasarkan firman Allah :

“Maka cucilah wajah kalian.” (Al-Maidah, 5:6).

4.6. Menyeka-Nyeka Jenggot Dengan Air

Kemudian menyeka-nyeka jenggot berdasarkan hadits Utsman :

“Sesungguhnya Nabi  menyeka-nyeka jenggotnya.” (Riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

4.7. Mencuci Kedua Tangan Sampai Siku

Setelah itu, mencuci kedua tangan sampai siku sebagaimana yang difirmankan Allah :

“Dan (cucilah) tangan-tangan kalian sampai siku.” (Al-Maidah, 5:6).

Dalam hal ini, siku masuk dalam pencucian tangan dengan dasar bahwa ILAA bermakna MA’A (bersama) dan juga hadits Abu Hurairah  ketika beliau mencontohkan wudhu Rasulullah :

“Aku melihat Abu Hurairah berwudhu lalu mencuci tangannya yang kanan sampai awal lengan atasnya.” (Riwayat Muslim).

4.8. Membasuh Kepala dan Telinga

Setelah itu, membasuh semua bagian kepala dengan dalil firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 6. Adapun caranya adalah dengan mengambil air lalu mengusapkannya dari dahi dan dibawa ke tengkuk kemudian dibawa lagi ke depan ke dahi kembali, kemudian dipakai untuk mengusap telinga dengan cara memasukkan kedua jari telunjuk ke kedua telinga dan kedua jari jempol mengusap bagian luar telinga. Dalilnya adalah:

a. Hadits Abdullah bin Zaid:

“Sesungguhnya Nabi membasuh kepalanya dengan kedua tanganya lalu membawanya ke depan dan ke belakang, beliau memulai dari permulaan kepala (dahi) kemudian membawanya ke tengkuknya, kemudian mengembalikannya ke tempat yang semula.”(Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

b. Hadits Abdullah bin Amr:

“Kemudian Rasulullah  mengusap kepalanya dan memasukkan kedua jari telunjuknya ke kedua telinganya dan kedua jempolnya mengusap bagian luar telinganya.” (Riwayat Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

4.9. Mencuci Kedua Kaki Sampai Mata Kaki

Kemudian mencuci kaki sampai mata kaki sebagaiman firman Allah I dalam surat Al Maidah.

Demikianlah makalah ini dibuat dengan ringkas. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kaum muslimin dan muslimat.

 

—————

Rujukan:

1. Shifat Wudhu Rasululloh ;  2. Mauqif Ahli Sunnah wa l-Jamaah fi Ahlil Bidah;  3. Ilmu Ushul Bidah

 

 

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 20 Februari 2011 in Fiqh

 

Tag: , , ,

One response to “Sifat Wudhu Rasulullah

  1. Luqman Ar-Raahman Al-Shaleh

    20 Februari 2011 at 12:07 pm

    Assalamu’alaikum…
    Sangat bermanfaat wacanan anda…
    Silahkan kunjungi blog saya
    http://abdurrahmanshaleh.wordpress.com/
    kasih komentar dan saran ya…
    Terimakasih…
    Wassalamu’alaikum

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: