RSS

Hadis 1 Kitab Bulughul Marram (Kesucian Air Laut)

07 Jun

Kesucian Air Laut

1.  عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، في البَحْرِ: هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُأَخْرَجَهُ الأَرْبَعَةُ وَابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالتِّرْمِيْذِيُّ وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ

  1. Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang (hukum) air laut: Air laut itu suci, (dan) halal bangkainya.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidziyy, Nasaa-i, Ibnu Majah, dan Ibnu Abi Syaibah, dan ini merupakan lafalnya, dan telah disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, dan Tirmizi dan telah diriwayatkan pula oleh Malik, Syafi’i dan Ahmad.

Penjelasan Hadis.

Hadis ini akan dijelaskan dalam beberapa sub bahasan:

Biografi Perawi Hadis.

Perawi hadis ini adalah sahabat Nabi yang mulia Abu Hurairoh Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausi yang terkenal dengan kunyah beliau “Abu Hurairah”. Beliau masuk islam pada tahun peristiwa perang Khaibar dan mulazamah (belajar) kepada Nabi sehingga menjadi sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadis Nabi.

Beliau menjadi salah satu ulama besar dan ahli fatwa dikalangan sahabat dan terkenal dengan kewibawaan, ibadah dan sifat rendah hatinya. Imam al-Bukhari menyatakan, beliau memiliki delapan ratus murid atau lebih.

Beliau meninggal dunia di kota Madinah pada tahun 57 H. dan dimakamkan di pekuburan Baqi’..

Takhrij Hadis.

Sebelum memulai dengan penjelasan Takhrij hadis ini, perlu kiranya disampaikan sedikit tentang pengertian Takhrij dan pembagian hadis menurut kreteria diterima atau tidak..

Pengertian Takhrij

Takhrij menurut bahasa mempunyai beberapa makna. Yang paling mendekati di sini adalah berasal dari kata kharaja ( خَرَجَ ) yang artinya nampak dari tempatnya, atau keadaannya, dan terpisah, dan kelihatan. Demikian juga kata al-ikhraj ( اْلِإخْرَج ) yang artinya menampakkan dan memperlihatkannya. Dan al-makhraj ( المَخْرَج ) artinya artinya tempat keluar; dan akhrajal-hadis wa kharrajahu artinya menampakkan dan memperlihatkan hadis kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya.

Takhrij menurut istilah adalah menunjukkan tempat hadis pada sumber aslinya yang mengeluarkan hadis tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika diperlukan.

Hadis yang sedang kita bahas ini dikeluarkan oleh Malik di Muwath-tha’-nya (I/45 –Tanwiirul Hawalik syarah Muwath-tha oleh Suyuthi), Syafi’i di kitabnya Al Umm (I/16), Ahmad di Musnad-nya (2/232,361), Abu Dawud dalam sunan-nya (no: 83), Tirmizi (no: 69), Nasaa-i dalam sunannya (1/50, 176), Ibnu Majah dalam sunan-nya (no: 43), Ad Darimi dalam sunan-nya (1/186), Ibnul Jaarud dalam al-Muntaqaa’ (no: 43), Ibnu Khuzaimah dalam kitab sahih ibnu Khudzaimah (no: 777), Ibnu Hibban dalam sahihnya (no: 119 –Mawarid), Hakim dalam al-mustadrak (1/140-141), ibnu Abi Syaibah dalamal-Mushannaf (1/131) dan lain-lain, semuanya dari jalan imam Malik dari Sofwan bin Sulaim dari Sa’id bin Salamah (ia berkata:) sesungguhnya Mughirah bin Abi Burdah telah mengabarkan kepadanya, bahwasanya ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata,

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيْلُ مِنَ الْمَاءِ إِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَـتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هُوَ الطُّهُوْرُ مَاؤُهُ الحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Telah bertanya seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ya Rasulullah, kami akan berlayar di lautan dan kami hanya membawa sedikit air, maka kalau kami berwudlu dengan mempergunakan air tersebut pasti kami akan kehausan, oleh karena itu bolehkah kami berwudlu dengan air laut? Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,Laut itu suci airnya, (dan) halal bangkainya.

Hadis ini sahih dan semua perawinya tsiqah (kredibel) dan termasuk para perawi sahih al-Bukhari dan Muslim (asy-Syaikhan), kecuali al-Mughiroh bin Abi Burdah. Beliau ini dihukumi tsiqah oleh imam An-Nasaa’i dan dimasukkan ibnu Hibban dalam kitab Ats-Tsiqaat.

Hadis ini telah di-sahih-kan oleh jama’ah ahli hadis, diantaranya:

  1. Imam al-Bukhari, ketiak ditanya oleh imam at-Tirmizi tentang hadis ini, beliau menjawab : hadis ini sahih.
  2. Imam at-Tirmizi, ia berkata: hadis ini hasan sahih.
  3. Imam Ibnu Khuzaimah.
  4. Imam Ibnu Hibban.
  5. Imam al-Hakim.
  6. Ath-Thahawi
  7. Al-Baihaqi
  8. Ibnu Abdilbarr dalam at-Tamhid 16/218-219: Hadis ini menurutku sahih, karena para ulama telah menerima hadis ini dan beramal dengannya. Tidak ada seorang ahli fikih pun yang menyelisihinya secara umum.
  9. Ibnul Mundzir.
  10. Ibnu Mandah.
  11. Al Baghawi.
  12. Al-Khathabi.
  13. Abdulhaq al-Isybili
  14. Ibnu Taimiyah.
  15. Ibnu Katsir.
  16. Ibnul Atsir, ia berkata: ini hadis yang sahih lagi masyhur, telah dikeluarkan oleh para imam di kitab-kitab mereka, dan mereka telah berhujjah dengannya dan rawi-rawinya tsiqaat.
  17. Ibnu Hajar.
  18. Al-Albani, beliau menyatakan: ini sanadnya sahih semua perawinya tsiqah (kredibel). (irwa al-Ghalil 1/43).

Hadis di atas pun telah mempunyai beberapa jalan (thuruq) selain dari jalan imam Malik. dan juga telah mempunyai syawaahid dari jamaah para sahabat, diantaranya: Jabir bin Abdillah, Al Firaasiy, Ibnu Abbas, Abdullah bin ‘Amru, Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar.

Syeikh Abdullah bin Abdurrahman ali Basaam menyatakan: Hadis ini disahihkan oleh para ulama diantaranya: al-Bukhari, al-Haakim, ibnu Hibaan, ibnu Mundzir, ath-Thahawi, al-baghawi, al-Khathabi, ibnu Khuzaimah, ad-Daraquthni, ibnu Hazm, ibnu Taimiyah, ibnu Daqiqil Ied, ibnu Katsir, ibnu Hajar dan lainnya sampai lebih dari 36 imam. (Taudhih al-Ahkaam, 1/115).

Apa itu Hadis Sahih.

Hadis yang sahih adalah hadis yang bersambung sanadnya dari awal hingga akhir baik itu Nabi atau sahabat atau yang dibawahnya dengan syarat para perawinya adil dan memiliki kesempurnaan Dhabth tanpa adanya syadz dan ilat yang merusaknya.

Inilah definisi hadis sahih lidzatihi yang sudah disepakati para ulama hadis.

Dari definisi ini dapat dijelaskan bahwa keluar dari definisi ini :

  • Sahih lighairihi karena ia butuh penguat dari jalan lain (Mutaabi’) atau  penguat dari hadis lainnya (syaahid) yang manguatkanya dan menjadikannya sahih.
  • Hadis-hadis yang tidak bersambung sanadnya, seperti munqathi’, mu’dhal, mursal, dan mu’allaq.
  • Hadis-hadis yang ada perawinya yang tidak adil, seperti matruk, maudhu’ dan mungkar –versi penulis manzhumah-.
  • Hadis-hadis yang ada perawinya yang tidak sempurna Dhabth-nya atau dicela karena kelemahan dalam hal ini, sepeti hadis hasan dan hadis dha’if .
  • Hadis-hadis yang menyelisihi yang lebih kuat dan rajih darinya, seperti hadis Syaadz dan hadis mungkar –versi mayoritas ulama hadis dan dirajihkan ibnu Hajar.
  • Hadis-hadis yang ada illat yang merusaknya, seperti hadis muallal dan mudallas apabila pelaku tadlis-nya tidak menyampaikan kejelasan mendengarnya dengan lafal jelas.

Syarat hadis Sahih.

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hadis yang sahih memiliki 5 Syarat.

1). Sanad-nya bersambung. Maksudnya setiap perawi mendengar langsung dari gurunya.
2). Al-‘Adalah (adil). Maksudnya disini para perawi memiliki kemampuan yang membuatnya dapat konsisten dalam ketakwaan dan menjauhi kefasikan dan perusak muru’ah (harga diri dan kehormatannya). Hal ini dapat dijabarkan dengan muslim, baligh dan berakal yang tidak melakukan perbuatan dosa besar dan tidak terus menerus berbuat dosa kecil serta tidak berbuat perbuatan yang merusak muru’ahnya.
3). Kesempurnaan Adh-Dhabth. Pengertiannya adalah kekuatan hafalan dan penjagaannya. Para ulama membagi sifat adh-Dhabth menjadi dua:

  • Ad –Dhabt ash-Shadr yaitu kemampuan untuk menyampaikan hafalannya kapan saja dan dimana saja.
  • Ad –Dhabt al-Kitaabah yaitu kemampuan untuk menjaga kitab dan tulisannya sejak mendengarnya hingga menyampaikannya.

4). Tidak ada syadz-nya.

5). Tidak ada illat yang merusaknya.

Contoh hadis sahih.

Contohnya adalah hadis yang berbunyi,

قَالَ الْبُخَارِيُّ : حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيْدٍ الأَنْصَارِيْ قَالَ أَخْبَرَنِيْ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ التَّيْمِيْ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيْ يَقُوْلُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ : ( إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengetahui hadis sahih setelah mendapatkan sanad dan matannya adalah sebagai berikut:

  • Mengenal kedudukan dan pendapat para ulama tentang perawi yang ada dalam sanad satu persatu. Dalam hadis ini terdapat nama-nama perawi sebagi berikut:
  1. Abu Bakar Abdullah bin az-Zubair bin ‘Isaa al-Humaidi. Nasab beliau bertemu dengan Khadijah ummul mukminin pada Asad dan dengan Nabi pada Qushai. Seorang imam besar yang menemani Syafi’i dalam mencari ilmu dari Ibnu ‘Uyainah dan mengambil fikih dari beliau. Beliau seorang tsiqah hafizh dan faqih serta termasuk murid besar ibnu ‘Uyainah.  Beliau menemani imam asy-Syafi’i hingga ke Mesir dan baru pulang ke Makkah setelah asy-Syafi’i  wafat hingga meninggal tahun 219 H.
  2. Abu Muhammad Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran al-Hilali al-Kufi kemudian al-Makki. Beliau kelahiran Kufah dan menetap di Makkah. Beliau mendengar lebih dari 70 tabi’in. ibnu Hajar menyatakan, “Beliau seorang Tsiqat hafizh faqih imam hujjah namun berubah hafannya diakhir hayatnya dan melakukan tadlis namun hanya dari para perawi yang tsiqah. Beliau adalah orang yang paling bagus hafalannya dalam hadis Amru bin Dinaar. Beliau termasuk murid dari Yahya bin Saa’id al-Anshari. Meninggal pada bulan rajab tahun 178 H. dalam usia 71 tahun
  3. Abu Sa’id Yahya bin Sa’id bin Qais bin ‘Amru al-Anshari al-Madani al-Qaadhi seorang tsiqah tsabat dan meninggal tahun 144 H.
  4. Abu Abdillah Muhammad bin Ibrahim bin al-Haarits bin Khalid at-Taimi al-Madani seorang tsiqah meninggal tahun 120 H.
  5. ‘Alqamah bin Waqqaash al-Laitsi al-Madani seorang tsiqah tsabat dan meninggal pada masa kekhilafahan Abdulmalik bin Marwan.
  6. Umar bin al-Khathab al-‘Adawi sahabat nabi dan khalifah rasyid yang kedua.
  • Mengenal bersambung atau tidaknya sanad hadis yang sedang dicari hukumnya, dengan cara melihat kepada lafal simaa’ – nya. Didapatkan semua perawi menyampaikan dengan lafal yang jelas gamblang mendengar dari perawi diatasnya, sehingga dapat dipastikan mereka mendengar langsung dari perawi diatasnya.
  • Mengumpulkan jalan periwayatan hadis yang ada baik dalam riwayat lainnya atau hadis dari sahabat lainnya untuk diketahui apakah ada yang menyelisihinya atau ada illah (penyakit) yang merusak kebasahan hadis tersebut.

 

  • Kemudian baru dapat menghukum hadis tersebut termasuk sahih atau tidak.

Ternyata bila kita terapkan syarat-syarat hadis sahih didapatkan semuanya ada pada hadis ini. Sehingga dihukumi sebagai hadis sahih.

=Bersambung insya Allah=

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi,L.c.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Juni 2011 in Hadits

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: