RSS

Arsip Kategori: Al-Ilmu

Keteladanan Syaikh Bin Baz

Berikut tiga teladan Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Bazrahimahullah. Semoga kita bisa meneladaninya.
Semangat Mendapatkan Shaf Pertama
 Syeikh Ibnu Baz pernah menceritakan suatu hal yang menarik yang terjadi ketika beliau muda dan di awal-awal menuntut ilmu agama. Beliau sendiri menuturkan hal ini,

“Ada sebuah kejadian yang pernah kualami sendiri. Sampai hari ini aku masih terkesan dengan kejadian tersebut. Kejadian ini terjadi ketika aku masih muda. Aku tergolong orang yang selalu berada di shaf pertama dalam shalat berjamaah. Suatu ketika aku telat datang ke masjid disebabkan membaca beberapa buku yang membahas beberapa permasalahan penting sehingga melalaikan aku dari shalat. Karena terlambat aku tidak mendapatkan shaf pertama dan aku tertinggal beberapa rakaat. Yang menjadi imam masjid adalah hakim kota Riyadh yaitu Syeikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syeikh dan beliau adalah salah seorang guru tempatku untuk menimba ilmu. Setelah beliau salam, beliau melihatku masih mengerjakan shalat di ujung shaf karena tertinggal beberapa rakaat. Realita ini sangat mengesankan diri beliau.

Akhirnya beliau menyampaikan kultum. Salah satu poin yang beliau sampaikan adalah, “Sebagian orang sibuk dengan aktivitasnya sehingga menjadi makmum masbuk”.

Mendengar kalimat tersebut aku mengerti bahwa akulah yang beliau maksudkan. Sejak saat itu aku tidak pernah telat dalam shalat berjamaah. Inilah sebuah peristiwa yang tak akan pernah terlupa dalam hidupku”.

Sungguh kondisi kita dalam masalah terlambat shalat berjamaah sangat memprihatinkan. Sering kali hal ini terjadi pada orang-orang yang mengerti ilmu agama. Duh seandainya yang menyebabkan kita telat shalat berjamaah adalah kesibukan untuk mentelaah kitab-kitab para ulama dan mengkaji beberapa permasalahan yang penting.
Syeikh Ibnu Baz memiliki suatu yang diistilahkan oleh para ulama dengan ibadah waktu. Yaitu jika detik ini adalah waktu untuk melakukan suatu ibadah maka beliau akan melakukannya dan meninggalkan suatu aktivitas yang selainnya. Jika adzan terdengar maka beliau akan menghentikan semua aktivitas. Jika adzan terdengar ketika beliau berada di kantor beliau sebagai seorang mufti maka beliau hentikan semua kegiatan. Jika beliau sedang menyampaikan pengajian dan adzan terdengar maka pengajian pun beliau hentikan.
Saat beliau berada di kantor beliau sebagai seorang mufti lalu terdengar adzan maka beliau hentikan ativitas beliau. Jika saat muadzin selesai ada pegawai kantor yang datang dan mengatakan, “Wahai syeikh ada permasalahan demikian dan demikian”, niscaya beliau akan berkata, “Engkau tidak menirukan ucapan muadzin?! Engkau tidak mendengarkan adzan?! Engkau masih bekerja ketika ada suara adzan?!”.
Semangat dalam Menerapkan Sunnah
Pada suatu hari-meski kisah ini sebenarnya mengandung guyonan -sebuah gelas berisi jus disuguhkan kepada beliau. Beliau lantas meminumnya. Setelah beliau selesai minum sebuah gelas kedua pun disuguhkan kepada beliau. Beliau mengatakan, “Perutku sudah tidak muat”. Akan tetapi orang yang menyuguhkan terus mendesak beliau agar minum. Setelah gelas kedua beliau minum beliau mengatakan-dengan nada guyon-, “Tuangkan untuk yang ketiga”. Beliau ingin agar berakhir dengan bilangan ganjil.
Ketika beliau sakit yang mengantarkan beliau kepada kematian, jika pelayan beliau ingin memasangkan sepatu atau kaos kaki namun salah karena mendahulukan kaki kiri maka beliau menolak dan menjauhkan kaki beliau hingga pelayan tersebut memulai dengan kaki kanan.
Semangat untuk Memberi Nasehat
Ada seorang yang bercerita bahwa dia mengerjakan shalat di samping Syeikh Ibnu Baz. Setelah selesai shalat, beliau berkata kepada orang tersebut, “Kayaknya aku merasa engkau mendahului imam padahal ini adalah perbuatan yang membatalkan shalat. Tolong perhatikan besok-besok jangan mendahului imam”.
Ada juga orang yang bercerita bahwa dia telah mengerjakan shalat di samping Syeikh Ibnu Baz. Ketika itu beliau sedang mengerjakan shalat tahiyatul masjid sedangkan dia sudah mengerjakan tahiyatul masjid sebelum beliau. Saat beliau shalat aku duduk membaca al Qur’an dengan suara yang keras. Setelah beliau salam, beliau berkata kepada orang tersebut, “Maa sya Allah, bacaanmu bagus. Apakah kau hafal al Qur’an?”. Jawaban orang tersebut, “Aku tidak hafal al Qur’an”.
Beliau berkata, “Tidak pantas bagi orang semisalmu jika tidak hafal al Qur’an. Hafalkanlah al Qur’an, wahai anaku!”.
Orang tersebut berkata, “Sejak saat itu aku mulai menghafal al Qur’an sehingga akhirnya hafalan tersebut bisa aku selesaikan. Beliau mendoakanku. Bahkan dalam waktu yang cukup lama beliau mendoakanku agar menjadi penghafal al Qur’an. Di antara doa beliau untukku adalah, ‘Ya allah, fahamkanlah dia tentang agama dan ajarilah dia tafsir al Qur’an”.
Demikianlah sebuah nasehat ringan bisa sangat berkesan dalam hati orang yang dinasehati. Sebab itu, jangan merasa berat untuk berbagi nasehat
[Diolah dari Ma’alim Tarbawiyyah min Sirah al Imam Abdul Aziz bin Baz karya Muhammad ad Duhaim hal 8-10]
*****************************************************
Dikutip dari: ustadzaris.com
Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Desember 2011 in Al-Ilmu

 

Tag: ,

CARA MUDAH MENGHAFAL AL-QUR’AN

Pada edisi sebelumnya,  telah kami posting RUMUS PRAKTIS MUDAH MENGHAFAL AL QUR’ANmaupun bekal-bekal yang harus dipersiapkan oleh para penghafal Al Qur’an Al Karim. Sedangkan pada edisi kali ini, kami akan berikan penjelasan tentang CARA MUDAH MENGHAFAL AL QUR’AN yang ditulis oleh Syeikh Abdul Muhsin Al-Qasim. Beliau adalah Imam dan Khatib di Masjid Nabawi. Semoga Artikel kali ini bermanfaat dan dapat menambah semangat kaum Muslimin untuk dapat menyelesaikan hafalan Al Qur’an yang mulia. Selamat mencoba. [admin]

الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد ، وعلى آله وصحبه أجمعين

Berikut adalah metode untuk menghafal Al-Quran yang memiliki keistimewaan berupa kuatnya hafalan dan cepatnya proses penghafalan. Kami akan jelaskan metode ini dengan membawa contoh satu halaman dari surat Al-Jumu’ah:

1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali :

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali:

وَآَخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali:

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

5. Bacalah keempat ayat ini dari awal sampai akhir sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut

6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali:

قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali:

وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

10. Bacalah ayat kelima sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut

11. Bacalah ayat pertama sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk menguatkan/meng-itqankan hafalan untuk halaman ini

Demikianlah ikuti cara ini dalam menghafal setiap halaman Al-Qur’an. Dan janganlah menghafal lebih dari seperdelapan juz dalam setiap hari agar tidak berat bagi anda untuk menjaganya.

Bagaimana cara menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah?

Janganlah anda menghafal Al-Quran tanpa proses muraja’ah/pengulangan. Hal ini dikarenakan jika anda terus menerus menambah hafalan Al-Quran lembar demi lembar hingga selesai kemudian anda ingin untuk mengulang kembali hafalan anda dari awal maka hal itu akan berat dan anda dapati diri anda telah melupakan hafalan yang lalu. Oleh karena itu, jalan terbaik (untuk menghafal) adalah dengan menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah.

Bagilah Al-Quran menjadi 3 bagian dimana setiap bagian terdiri dari 10 juz. Jika anda menghafal satu halaman setiap hari, maka ulangilah 4 halaman sebelumnya sampai anda menghafal 10 juz. Jika anda telah mencapai 10 juz, maka berhentilah selama sebulan penuh untuk muraja’ah dengan cara mengulang-ngulang 8 halaman dalam setiap harinya.

Setelah sebulan penuh muraja’ah, maka mulailah kembali untuk menambah hafalan yang baru baik satu atau dua halaman setiap harinya tergantung kemampuan serta barengilah dengan muraja’ah sebanyak 8 halaman dalam sehari. Lakukan ini sampai anda menghafal 20 juz. Jika anda telah mencapainya, maka berhentilah dari menambah hafalan baru selama 2 bulan untuk mengulang 20 juz. Pengulangan ini dilakukan dengan mengulang 8 halaman setiap hari.

Setelah 2 bulan, mulailah kembali menambah hafalan setiap hari sebanyak satu sampai dua halaman dengan dibarengi muraja’ah/pengulangan 8 halaman sampai anda menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.

Jika anda telah selesai menghafal seluruh Al-Qur’an, ulangilah 10 juz pertama saja selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz. Kemudian ulangilah 10 juz kedua selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama. Kemudian ulangilah 10 juz terakhir selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

Bagaimana cara memuraja’ah/mengulang Al-Quran seluruhnya jika saya telah menyelesaikan system muraja’ah diatas?

Mulailah dengan memuraja’ah Al-Qur’an setiap hari sebanyak 2 juz. Ulangilah sebanyak 3 kali setiap hari hingga anda menyelesaikan Al-Qur’an setiap 2 minggu sekali. Dengan melakukan metode seperti ini selama satu tahun penuh, maka –insya Allah- anda akan dapat memiliki hafalan yang mutqin/kokoh.

Apa yang harus dilakukan setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dalam satu tahun?

– Setelah setahun mengokohkan hafalan Al-Qur’an dan muraja’ahnya, jadikanlah Al-Qur’an sebagai wirid harian anda sampai akhir hayat sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjadikannya sebagai wirid harian. Adalah wirid Rasulullah dengan membagi Al-Qur’an menjadi 7 bagian sehingga setiap 7 hari Al-Qur’an dapat dikhatamkan. Berkata Aus bin Hudzaifah رحمه الله: Aku bertanya pada sahabat-sahabat Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – tentang bagaimana mereka membagi Al-Qur’an (untuk wirid harian). Mereka berkata: 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan dari surat Qaf sampai selesai. (HR. Ahmad). Yaitu maksudnya mereka membagi wirid Al-Quran sebagai berikut:

– Hari pertama: membaca surat “al fatihah” hingga akhir surat “an-nisa”,
– Hari kedua: dari surat “al maidah” hingga akhir surat “at-taubah”,
– Hari ketiga: dari surat “yunus” hingga akhir surat “an-nahl”,
– Hari keempat: dari surat “al isra” hingga akhir surat “al furqan”,
– Hari kelima: dari surat “asy syu’ara” hingga akhir surat “yaasin”,
– Hari keenam: dari surat “ash-shafat” hingga akhir surat “al hujurat”,
– Hari ketujuh: dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-naas”.

Wirid Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – di singkat oleh para ulama dengan perkataan: فمي بشوق (famii bisyauqi). Dimana setiap huruf dari kata ini merupakan surat awal dari kelompok surat yang dibaca setiap hari.

Bagaimana membedakan antara ayat-ayat mutasyaabih/mirip di dalam Al-Qur’an?

Cara yang paling afdhal jika anda mendapati 2 ayat yang mirip adalah dengan membuka mushaf pada setiap ayat yang mirip tersebut, lalu perhatikanlah perbedaan diantara kedua ayat tersebut kemudian berikanlah tanda yang dapat mengingatkan anda akan perbedaan itu. Lalu ketika anda memuraja’ah, perhatikanlah perbedaan yang anda tandai sebelumnya beberapa kali hingga anda mantap menghafal tentang kemiripan dan perbedaan diantara keduanya.

Kaidah-kaidah dan batasan-batasan dalam menghafal Al-Qur’an

o Wajib bagi anda menghafal dengan bantuan seorang ustadz/syeikh untuk membenarkan bacaan anda

o Hafallah 2 halaman setiap hari. Satu halaman setelah Subuh, dan satu halaman lagi sesudah Ashar atau sesudah Maghrib. Dengan cara ini, maka anda akan mampu menghafal Al-Qur’an seluruhnya dengan mutqin/kokoh dalam waktu satu tahun. Adapun jika anda menambah hafalan diatas 2 halaman setiap hari maka hafalan anda akan lemah disebabkan semakin banyaknya ayat yang harus dijaga..

o Hendaklah menghafal dari surat An-Naas sampai Al-Baqarah karena hal tersebut lebih mudah. Namun setelah selesai menghafal seluruh Al-Quran, hendaklah muraja’ah anda dimulai dari surat Al-Baqarah sampai An-Naas

o Hendaklah menghafal dengan menggunakan satu cetakan mushaf karena hal ini dapat menolong anda dalam memantapkan hafalan dan meningkatkan kecepatan dalam mengingat posisi-posisi ayat serta awal dan akhir setiap halaman Al-Qur’an.

o Setiap orang yang menghafal dalam 2 tahun pertama biasanya masih mudah kehilangan hafalannya. Masa ini dinamakan dengan Marhalah Tajmi’ (fase pengumpulan). Janganlah bersedih atas mudahnya hafalan anda hilang atau banyaknya kekeliruan anda. Karena memang fase ini merupakan fase cobaan yang sulit. Dan waspadalah, karena syaithan akan mengambil kesempatan ini untuk menggoda anda agar berhenti dari menghafal Al-Qur’an. Maka janganlah perdulikan rasa was-was syaithan tersebut dan teruskan menghafal karena sesungguhnya itu adalah harta yang sangat berharga yang tidak diberikan pada setiap orang.

Sumber: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=342445 [mirror]

Artikel: www.salafiyunpad.wordpress.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 September 2011 in Al-Ilmu

 

Tag:

RUMUS PRAKTIS MUDAH MENGHAFAL AL QUR’AN (Buktikan !!)

Pada postingan artikel sebelumnya kami sampaikan tentang kiat-kiat untuk dapat menghafal ayat-ayat Al Qur’an , sebagian Salaf berlomba-lomba menghafal Al Qur’an dan memuraja’ah hafalan mereka. Nah, pada postingan kali ini, kami sampaikan rumus praktis bagi antum yang ber’azzam untuk dapat menyelesaikan hafalan Al Qur’an al Karim setelah mempelajari metode-metode sebagai bekal dalam meraih kemampuan untuk dapat menghafal Al-Qur‘ân secara baik. Semoga bermanfaat!

RUMUS PRAKTIS MENGHAFAL AL QUR’AN

Jumlah Hafalan / Hari

PREDIKSI SELESAI TAHFIZH AL QUR’AN

TAHUN

BULAN

HARI

1 ayat

17

7

9

2 ayat

8

9

18

3 ayat

5

10

13

4 ayat

4

4

24

5 ayat

3

6

7

6 ayat

2

11

4

7 ayat

2

6

3

8 ayat

2

2

12

9 ayat

1

11

12

10 ayat

1

9

3

11 ayat

1

7

6

12 ayat

1

5

15

13 ayat

1

4

6

14 ayat

1

3

15 ayat

1

2

1

16 ayat

1

1

6

17 ayat

1

10

18 ayat

11

19

19 ayat

11

1

½ lembar

3

4

24

1 lembar

10

6

Artikel oleh http://salafiyunpad.wordpress.com

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 28 September 2011 in Al-Ilmu

 

Tag: , ,

Berbenah Diri Untuk Penghafal Al-Qur’an

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjamin kemurnian Al-Qur‘ân telah memudahkan umat ini untuk menghafal dan mempelajari kitab-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan para hamba-Nya agar membaca ayat-ayat-Nya, merenungi artinya, dan mengamalkan serta berpegang teguh dengan petunjukNya. Dia Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan hati para hamba yang shalih sebagai wadah untuk memelihara firman-Nya. Dada mereka seperti lembaran-lembaran yang menjaga ayat-ayat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Sebenarnya, Al-Qur‘ân itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zhalim … (Qs al-Ankabût/29:49).

Dahulu, para sahabat Radhiallahu’anhum yang mulia dan Salafush-Shalih, mereka berlomba-lomba menghafal Al-Qur‘ân, generasi demi generasi. Bersungguh-sungguh mendidik anak-anak mereka dalam naungan Al-Qur‘ân, baik belajar maupun menghafal disertai dengan pemantapan ilmu tajwid, dan juga mentadabburi yang tersirat dalam Al-Qur‘ân, (yaitu) berupa janji dan ancaman.

Berikut ini adalah nasihat yang disampaikan oleh Dr. Anis Ahmad Kurzun diangkat dari risalah beliau Warattilil Qur’âna Tartîla, dan diterjemahkan oleh al-Akh Zakariyya al-Anshari. Pembahasan ini menyangkut metode-metode, sebagai bekal dalam meraih kemampuan untuk dapat menghafal Al-Qur‘ân secara baik. Read the rest of this entry »

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 28 September 2011 in Al-Ilmu

 

Mutiara Nasihat Syaikh Bin Bazz kepada Penuntut Ilmu

Segala puji bagi Allah, Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada rasul-Nya, Nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya. Adapun setelah itu :Adalah tidak diragukan lagi, bahwasanya menuntut ilmu termasuk seutama-utama amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, termasuk sebab-sebab kesuksesan meraih surga dan kemuliaan bagi pelakunya. Termasuk hal yang terpenting dari perkara-perkara yang penting adalah mengikhlaskan diri dalam menuntut ilmu, menjadikan menuntutnya karena Allah bukan karena selain-Nya. Dikarenakan yang demikian ini merupakan jalan yang bermanfaat baginya dan juga merupakan sebab diperolehnya kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat.

Dan sungguh telah datang sebuah hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwasanya beliau bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu dengan mengharap wajah Allah, tidaklah ia mempelajarinya melainkan untuk memperoleh harta dunia, dia takkan mendapatkan harumnya bau surga di hari kiamat.” [Dekeluarkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan}. Read the rest of this entry »

 
Komentar Dinonaktifkan pada Mutiara Nasihat Syaikh Bin Bazz kepada Penuntut Ilmu

Ditulis oleh pada 16 Maret 2010 in Al-Ilmu

 

Tag: ,

Keutamaan Ilmu

Pertama :
Ilmu Meningkatkan derajat

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman dan diberikan ilmu di antara kalian beberapa derajat. Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al Mujadilah [58] : 11).

Al Hafizh menjelaskan, Ada yang mengatakan tentang tafsirannya adalah : Allah akan mengangkat kedudukan orang beriman yang berilmu dibandingkan orang beriman yang tidak berilmu. Dan pengangkatan derajat ini menunjukkan adanya sebuah keutamaan…”(Fathul Bari, 1/172). Beliau juga meriwayatkan sebuah ucapan Zaid bin Aslam mengenai ayat yang artinya, “Kami akan mengangkat derajat orang yang Kami kehendaki.” (QS. Yusuf [12] : 76). Zaid mengatakan, “Yaitu dengan sebab ilmu.” (Fathul Bari, 1/172).

Read the rest of this entry »

 
Komentar Dinonaktifkan pada Keutamaan Ilmu

Ditulis oleh pada 8 Februari 2010 in Al-Ilmu

 

Tag:

Nasehat Bagi Penuntut Ilmu Untuk Menetapi Kebenaran Dan Kesabaran

Bagian Pertama dari Dua Tulisan

Syaikh Ali bin Hasan Abdul Hamid Al-Halabi

Segala puji hanya milik bagi Allah Jalla Jalaluhu, kita memujiNya, meminta pertolonganNya, memohon ampunanNya dan kita meminta perlindungan kepadaNya dari kejelekan diri dan amal kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah Jalla Jalaluhu maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkanNya, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk. Aku bersaksi tidak sesembahan yang benar kecuali Allah Jalla Jalaluhu, tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusanNya.

Selanjutnya :

Sesungguhnya sebaik–baik pembicaraan adalah Kalamullah dan sebaik–baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sejelek–jelek perkara adalah menambah–nambah dalam urusan agama dan setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan nerakalah tempatnya.

Read the rest of this entry »

 
Komentar Dinonaktifkan pada Nasehat Bagi Penuntut Ilmu Untuk Menetapi Kebenaran Dan Kesabaran

Ditulis oleh pada 23 Januari 2010 in Al-Ilmu

 

Tag: , ,

 
%d blogger menyukai ini: